Yang Penting Bukan Tingginya, Tapi Arahnya

Kita mungkin sering dengar kalimat kayak:
"Mimpi tuh harus tinggi. Yang bikin lu deg-degan pas ngomonginnya."

Seolah-olah kalau mimpi kita nggak cukup besar untuk bikin takut, berarti mimpi itu kurang ambisius.

Tapi di sisi lain, ada juga nasihat yang kebalikannya:

"Yang realistis aja lah. Jangan terlalu tinggi."

Dan anehnya, makin lama gue mikir, makin terasa kalau dua-duanya nggak salah.

Karena mimpi itu bukan perlombaan.

Nggak ada ukuran resmi yang bilang mimpi A lebih keren daripada mimpi B. Nggak ada piala untuk orang yang punya mimpi paling tinggi. Dan nggak ada hukuman buat orang yang mimpinya sederhana.

Yang sering kita lupa, setiap orang berangkat dari titik yang berbeda.

Ada yang mimpinya ingin membangun perusahaan besar.

Ada yang mimpinya ingin membahagiakan orang tua.

Ada yang ingin kuliah di kampus impian.

Ada juga yang saat ini cuma ingin hidup lebih tenang daripada tahun kemarin.

Dan semuanya valid.

Karena yang membuat sebuah mimpi berarti bukan seberapa megah kedengarannya, tapi seberapa besar makna mimpi itu buat orang yang menjalankannya. Menurut gue, pertanyaan yang lebih penting bukan:

"Mimpi lu tinggi nggak?"

Tapi:

"Lu tahu nggak cara menuju ke sana?"

Karena mimpi tanpa arah sering kali cuma jadi angan-angan. Sedangkan mimpi yang punya arah bisa berubah jadi rencana. Ketika kita sadar apa yang sedang kita kejar, kita mulai bisa melihat banyak hal dengan lebih jelas. Kita tahu skill apa yang perlu dipelajari. Kita tahu kebiasaan apa yang harus dibangun. Kita tahu bahwa ada proses panjang yang nggak bisa dilewati begitu aja.

Dan dari situ, mimpi terasa lebih nyata.

Kalau mimpi lu besar sampai bikin gugup, nggak masalah.

Takut bukan selalu tanda bahwa sesuatu itu mustahil.

Kadang takut cuma muncul karena kita sedang melihat sesuatu yang lebih besar dari diri kita saat ini.

Dan itu wajar.

Hampir semua hal yang berharga memang terasa menakutkan ketika pertama kali dilihat dari jauh. Tapi di saat yang sama, nggak semua orang harus punya mimpi yang bikin gemeter. Kalau lu lebih nyaman dengan target yang realistis dan terukur, itu juga bukan berarti kurang berani.

Kadang justru itu bentuk kedewasaan. Karena lu tahu kondisi diri sendiri, tahu kapasitas yang dimiliki, dan tahu langkah apa yang bisa diambil sekarang.

Bukan pesimis.

Cuma sadar posisi.

Dan menurut gue, kesadaran itu penting.

Sebab banyak orang kecewa bukan karena mereka gagal mencapai mimpi. Tapi karena mereka nggak pernah benar-benar menghitung perjalanan menuju ke sana. Mereka fokus pada hasil akhirnya, tapi lupa menyiapkan bekalnya. Padahal tujuan tanpa persiapan sering kali hanya menghasilkan tekanan.

Makanya gue lebih suka melihat mimpi seperti perjalanan. Bebas mau sejauh apa. Bebas mau setinggi apa. Tapi sebelum berangkat, setidaknya kita tahu tujuan akhirnya di mana, jalan mana yang akan dilewati, dan apa saja yang perlu dibawa.

Karena pada akhirnya, yang bikin seseorang sampai ke tujuan bukan cuma semangat di hari pertama. Tapi kemampuan untuk terus melangkah di hari-hari berikutnya. Jadi kalau ditanya, lebih baik mimpi tinggi atau realistis?

Jawaban gue: terserah.

Mau mimpi setinggi langit, silakan.

Mau mimpi yang sederhana dan membumi, juga silakan.

Yang penting bukan tingginya.

Yang penting lu tahu arahnya.

Karena arah yang jelas akan membuat langkah terasa lebih tenang.

Dan orang yang tahu ke mana dia berjalan biasanya nggak terlalu sibuk membandingkan jalannya dengan orang lain. Dia cukup fokus melangkah, satu per satu, sampai akhirnya tiba di tempat yang memang ingin dia tuju.

Komentar

Postingan Populer