Ternyata Matematika Seromantis Itu
Nggak pernah kepikiran sebelumnya kalau matematika bisa terasa seromantis ini.
Biasanya orang nggak suka matematika karena satu alasan klasik: susah dipahami. Rumusnya banyak, caranya beda-beda, dan kadang satu soal bisa bikin kepala muter lebih lama daripada yang kita mau.
Tapi justru karena itu, gue jadi sadar sesuatu. Matematika memang nggak disukai semua orang. Tapi dia disukai oleh orang-orang yang mau berusaha memahaminya.
Lucunya, semakin gue mikirin hal itu, semakin terasa kalau matematika mirip sesuatu yang lain.
Mirip perasaan. Mirip cara seseorang menyukai seseorang.
Karena yang namanya suka itu nggak selalu muncul dari sesuatu yang gampang dipahami. Kadang justru sebaliknya. Kita tertarik karena ada sesuatu yang bikin penasaran. Ada sesuatu yang belum kita mengerti sepenuhnya, tapi kita tetap ingin mencari tahu.
Begitu juga matematika. Ketika ketemu soal yang sulit, orang yang memang suka matematika biasanya nggak langsung bilang, "Ah, males."
Mereka malah penasaran.
Mereka cari cara lain.
Cari rumusnya.
Cari pola yang belum kelihatan.
Cari letak kesalahannya.
Pokoknya terus mencoba sampai akhirnya ngerti.
Dan entah kenapa, itu terdengar romantis.
Karena di dunia yang serba instan, masih ada orang yang rela bertahan untuk memahami sesuatu yang belum ia pahami. Makanya gue jadi mikir, mungkin yang namanya suka memang butuh orang yang tepat.
Orang yang ketika belum mengerti, nggak langsung pergi.
Orang yang ketika menemukan kesulitan, nggak langsung membencinya.
Orang yang tetap mau belajar memahami walaupun prosesnya nggak selalu mudah.
Ketika akhirnya rumusnya ketemu dan jawabannya benar, rasanya beda.
Bukan cuma lega.
Tapi ada perasaan puas karena semua usaha yang tadi dilakukan ternyata nggak sia-sia. Dan anehnya, setelah satu rumus berhasil dipahami, biasanya muncul rumus baru lagi.
Soal baru lagi.
Tantangan baru lagi.
Tapi bukannya capek, malah penasaran.
Kayak baru jatuh cinta lagi.
Makanya gue selalu ketawa kalau ada orang yang bilang, "Gue benci matematika."
Lalu ternyata ranking satu.
Ikut olimpiade matematika.
Hidupnya nggak jauh-jauh dari angka.
Mungkin memang begitu sifat matematika. Kadang orang bilang benci, tapi diam-diam menghabiskan banyak waktunya bersama dia. Lagian, dalam matematika aja negatif ketemu negatif bisa jadi positif.
Jadi siapa tahu pernyataan "gue benci matematika" juga punya arti yang lebih rumit daripada yang terdengar.
Buat gue sendiri, matematika itu kayak teka-teki besar yang harus dipecahkan dengan kesabaran.
Nggak selalu langsung ngerti.
Nggak selalu langsung ketemu jawabannya.
Tapi selalu ada jalan untuk sampai ke sana kalau kita terus mencoba.
Kadang gue bahkan ngebayangin, kalau matematika bisa ngomong, mungkin dia bakal bilang: "Aku memang rumit. Tapi orang yang tepat nggak akan berhenti hanya karena belum mengerti."
Dan mungkin itu alasan kenapa matematika tetap dicintai sampai hari ini.
Bukan karena dia mudah.
Tapi karena selalu ada orang-orang yang memilih untuk bertahan sampai akhirnya paham.

Komentar
Posting Komentar