Ikatlah Untamu, Kemudian Bertawakallah
اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ
"Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah."
— HR. Tirmidzi
Jujur aja, dulu aku sempat mengira kalau tawakal itu ya pasrah. Pokoknya sudah berdoa, lalu tinggal menunggu Allah mengabulkan apa yang kita minta.
Ternyata setelah dipikir-pikir lagi, kalau semua orang seperti itu, mungkin tidak akan ada yang belajar sebelum ujian, tidak ada yang mengirim lamaran kerja, bahkan mungkin tidak ada yang mengunci pintu rumah sebelum tidur. Kan aneh juga.
Di sinilah aku suka banget dengan salah satu hadis Rasulullah ﷺ yang sangat singkat, tetapi rasanya seperti menampar dengan lembut:
اعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ
"Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah."
Kisahnya berawal dari seorang Arab Badui yang bertanya kepada Rasulullah ﷺ. Ia bingung, apakah untanya perlu diikat terlebih dahulu atau cukup dilepas saja sambil bertawakal kepada Allah.
Jawaban Rasulullah ﷺ sederhana: ikat dulu untanya, baru bertawakal.
Kalau dipikir-pikir, masalah kita sekarang mungkin bukan unta. Mungkin tugas yang menumpuk, ujian yang semakin dekat, pekerjaan yang belum selesai, atau mimpi yang rasanya masih jauh banget.
Tapi pesannya tetap sama.
Kadang kita terlalu fokus pada hasil sampai lupa mempersiapkan prosesnya. Kita ingin nilai bagus, tapi belajar masih "besok aja". Kita ingin hidup berubah, tapi kebiasaan lama masih dipelihara. Kita ingin doa cepat terkabul, tapi ikhtiarnya masih setengah-setengah.
Padahal mungkin "mengikat unta" versi kita adalah hal-hal kecil yang sering kita tunda.
Membuka buku ketika malas belajar.
Menyelesaikan pekerjaan meski sedang tidak mood.
Meminta maaf lebih dulu meski gengsi.
Memulai sesuatu meski belum merasa siap.
Tidak selalu nyaman, memang. Tapi bukankah ikhtiar memang seperti itu? Yang menarik, Rasulullah ﷺ tidak berhenti di kata "ikatlah untamu." Beliau melanjutkan dengan "kemudian bertawakallah."
Artinya, setelah berusaha sebaik mungkin, kita juga tidak perlu memikul semuanya sendirian. Karena ada hal-hal yang memang berada di luar kendali kita.
Kita bisa belajar mati-matian, tapi hasil ujian tetap Allah yang tentukan. Kita bisa merencanakan banyak hal, tapi jalan hidup tetap Allah yang atur. Kita bisa berharap kepada seseorang, tapi hati manusia tetap berada dalam genggaman Allah. Dan menurutku, di situlah indahnya tawakal.
Bukan karena kita menyerah.
Justru karena kita sudah berusaha semaksimal yang kita bisa, lalu memilih untuk percaya bahwa Allah tahu apa yang terbaik.
Hadis ini mengingatkanku bahwa doa dan usaha bukanlah dua hal yang dipilih salah satu. Keduanya berjalan bersama. Berdoalah seolah-olah semuanya bergantung kepada Allah. Berusahalah seolah-olah ada bagian yang harus kamu kerjakan.
Lalu ketika hasilnya datang, apa pun bentuknya, sambut dengan hati yang tenang. Karena tugas kita hanyalah mengikat untanya. Sedangkan ke mana perjalanan itu akan berakhir, biarlah Allah yang menentukannya.

Komentar
Posting Komentar